Kisah Kessy Rahedy Membangun Griya Batik Madura KR: Dari Bagasi Mobil hingga Butik di Jakarta
Tripbiru.id-Jakarta, Batik Madura kerap tampil mencolok: warna berani, corak tegas, dan karakter visual yang terasa “berat”. Namun di balik selembar kain itu, ada kisah panjang tentang identitas, keberanian, dan kesetiaan pada akar budaya.
Kisah itu hidup dalam perjalanan Kessy Rahedy, perempuan Madura yang memilih menjadikan batik bukan sekadar komoditas, melainkan jalan hidup.
Kessy lahir dari keluarga Madura yang lahir dan besar di Gresik, kota industri di Jawa Timur. Meski tumbuh di lingkungan urban, ingatannya tentang batik Madura tak pernah lepas. Setiap pulang kampung ke Madura, matanya akrab dengan pemandangan perempuan-perempuan membatik di rumah. Batik bukan pabrik, bukan industri besar—melainkan denyut hidup sehari-hari.
Ibunya adalah perempuan desa yang berjualan batik dari rumah ke rumah. Batik Madura menjadi dagangan yang kerap dibawa, bahkan ketika harus menyeberang laut sebelum Jembatan Suramadu berdiri. Saat itu, Kessy kecil justru merasa gengsi. Ia menolak ketika ibunya menyarankan menjual batik. Baginya, masa depan bukan di sana.
Takdir berkata lain. Bertahun-tahun kemudian, Kessy bekerja sebagai Sekretaris Direksi anper di Petrokimia Gresik. Sembilan tahun ia meniti karier korporasi, mengenakan batik Madura ke kantor tanpa niat apa pun selain kenyamanan. Namun pertanyaan yang sama terus datang: “Batik kok bagus, beli di mana?”
Awalnya ia hanya membantu. Membelikan batik ketika ada titipan. Tak ada rencana bisnis. Hingga ia menikah dan mengikuti suaminya pindah ke Jakarta. Di kota ini, batik Madura kembali menarik perhatian. Kali ini, Kessy tak sekadar menjawab pertanyaan. Ia mulai membawa stok batik di bagasi mobil.
“Ke mana pun pergi, saya bawa batik,” kenangnya. Dalam sehari, sepuluh lembar bisa terjual. Dalam seminggu, lima puluh. Dari bagasi mobil, batik Madura menemukan pasarnya.
Januari 2015, ruang tamu rumahnya berubah menjadi etalase dadakan. Stok menumpuk, rumah terasa sesak. Suaminya lalu mengajukan satu tantangan serius: jika ingin menekuni batik, jangan setengah-setengah. Jangan sekadar hobi. Kessy menerima tantangan itu, bukan karena kebutuhan ekonomi, melainkan kebanggaan. Ia ingin batik Madura dikenal, dihargai, dan tidak punah.
Pada 5 Mei 2015, Griya Batik Madura KR resmi berdiri di Jakarta. KR diambil dari inisial namanya—sebuah penanda personal bahwa usaha ini adalah perpanjangan dari dirinya sendiri.
Produksi batik KR tetap berakar di Madura, tepatnya di Desa Kowel, Pamekasan. Di sana, sekitar sepuluh pembatik dan satu pencelup bekerja secara tradisional. Upah dibayar per lembar, bukan gaji bulanan. Prosesnya manusiawi, lambat, dan penuh ketelitian. Untuk batik gentongan, pengerjaan bisa memakan waktu hingga empat bulan, dengan pewarna alam seperti ilalang dan kulit manggis.
Kessy sadar, pasar Jakarta berbeda dengan Madura. Di kampung, batik sulit laku karena hampir setiap orang bisa membatik. Di ibu kota, batik Madura justru menjadi pembeda. Harga pun disesuaikan: dari Rp140 ribu untuk batik cap hingga jutaan rupiah untuk batik gentongan dan sutra. Pembelinya datang dari berbagai kalangan—bahkan menteri, duta besar, dan artis ibukota.
Namun tantangan terbesar bukan produksi atau pasar, melainkan edukasi. Banyak konsumen mengeluhkan warna tak rata atau cemong kecil. Kessy harus menjelaskan berulang kali: batik tulis adalah karya tangan, bukan tekstil pabrikan. Ketidaksempurnaan justru tanda kejujuran proses.
Pandemi menjadi ujian terberat. Penjualan nyaris berhenti. Kessy hampir menyerah. Hingga sebuah pesanan masker batik tiga lapis senilai Rp30 juta datang tanpa diduga. Dari titik itu, ia bangkit kembali, melibatkan penjahit-penjahit kecil, dan bertahan.
Kini, setelah satu dekade, kegelisahan Kessy bergeser pada regenerasi. Beberapa motif halus tak bisa lagi diproduksi karena pembatiknya wafat dan keahlian itu tak sempat diwariskan. Canting kecil, tangan terlatih, dan kesabaran ekstrem bukan hal yang mudah digantikan.
Namun Kessy tetap melangkah. Ia percaya, selama ada orang yang setia merawat proses dan cerita, batik Madura akan terus hidup. Bukan sebagai tren sesaat, melainkan identitas yang berdenyut dari masa ke masa. (*)
Foto: Kuncoro Widyo Rumpoko
