Kisah Zunianto “Menemukan” Sunrise di Posong
Tripbiru.id-Temanggung, Desa Posong, terletak di Desa Tlahab, Kecamatan Kledung, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, kini menjadi salah satu destinasi wisata alam yang populer di Indonesia—terutama bagi mereka yang menggemari keindahan pagi hari: matahari terbit, kabut tipis, dan panorama pegunungan. Di balik perkembangan Posong sebagai tempat wisata alam dengan daya tarik sunrise, ada sosok yang berperan sangat penting: Zunianto, biasa disapa “Zun”.
Latar Belakang dan Awal Perjalanan
Zunianto adalah sosok yang sebelumnya bekerja di sektor perhotelan—menjadi karyawan hotel dan pembimbing (guide) bagi tamu yang mengunjungi area wisata seperti Borobudur dan Dieng. Kepekaan terhadap keindahan alamnya sudah muncul sejak lama, terutama karena hobinya sebagai pecinta fotografi.
Dalam pekerjaannya, setiap pulang dari tugas malam hingga pagi, ia melewati daerah Kledung di Temanggung yang pemandangan sunrise-nya indah. Ia pun mulai membandingkan: kalau elevasinya lebih tinggi, tentunya pemandangannya akan lebih bagus. Ketika membantu ayahnya panen jagung di lahan sewaan di Posong, ia melihat bahwa lokasi tersebut memiliki potensi besar karena panorama sunrise-nya. Dari situlah ide dan impian untuk mengembangkan Posong sebagai spot wisata sunrise mulai tumbuh.

“Di Jogja tempat kerja saya, turis banyak menunjukkan foto sunrise di negeri mereka. Ada beberapa yang saya simpan. Lalu setiap saya berangkat kerja pagi hari, di sekitar saya ada pemandangan Gunung Sumbing yang kemilau dengan sunrise, saya lalu kepikiran gimana kalau dilihat dari ketinggian, maka waktu di Posong saya segera menemukan tempat yang pas,” ungkap Zunianto saat berbincang di Posong.
Proses Pengembangan
Mempromosikan lewat foto. Zunianto mengambil foto sunrise di Posong yang kemudian dicetak (meskipun sederhana: di atas kertas HVS) dan dipajang di lobi hotel tempatnya bekerja. Dari situlah banyak tamu yang menanyakan lokasi sunrise tersebut, sehingga Posong perlahan dikenal.
“Saya bawa hasil foto dan saya bagikan ke turis yang saya jumpai sambil menjelaskan lokasinya,” kata Zunianto.

Bermula dari komunitas local. Dia membentuk komunitas pecinta alam bernama Djokorekso dengan 13 orang anggota. Mereka ikut andil dalam menjaga, memelihara, dan mengembangkan kawasan Posong. Misalnya dengan menanam bibit kopi dan tanaman lokal lainnya, sehingga tidak hanya menjadi objek wisata semata tetapi juga ada kegiatan ekonomi lokal dan konservasi.
“Setelah ada beberapa turis yang datang, saya lalu membentuk komunitas untuk mengelola Posong,” ungkapnya.
Kerja sama dengan pemerintah daerah
Setelah usulan melalui proposal dan dukungan foto-foto ke Dinas Pariwisata, sekitar tahun 2009–2010 pemerintahan daerah mulai merespon. Anggaran hibah diberikan untuk pembangunan fasilitas pendukung seperti gazebo, toilet, parkir, pelebaran jalan, dan pos jaga.
Pencapaian dan Dampak
Dengan berjalannya waktu, Posong mulai menyediakan fasilitas seperti parkir, toilet, beberapa gazebo, jalan akses, dan wisata pendukung.
Desa Wisata Posong menjadi bagian dari Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), sehingga pendapatan dari wisata turut dirasakan oleh masyarakat setempat.
Posong dikenal secara lebih luas sebagai spot sunrise yang memukau, terutama golden sunrise dengan panorama pegunungan (Sindoro, Sumbing, Merapi, Merbabu, Ungaran, Telomoyo, Muria dan yang lainnya). Banyak pengunjung dari luar daerah yang datang.
Zunianto memiliki keyakinan kuat bahwa suatu saat banyak mobil-mobil mewah akan parkir di Posong, yang menggambarkan bagaimana wisata ini akan berkembang dan menjadi daya tarik besar.
“Sekarang sudah banyak mobil berkelas mewah yang naik ke parkiran,” katanya bangga. ars
